Mudahnya memahami Peta Model Kawasan Banjir DAS Cimanuk untuk Mengurangi Dampak Bencana

Garut berduka setelah banjir bandang menerjang 5 kecamatan (20/9). Pada saat itu, Garut di guyur hujan deras sejak pukul 18.00 WIB dan berlangsung hingga pukul 21.00 WIB. Banjir bandang ini menelan korban meninggal 26 jiwa dan 23 jiwa dilaporkan hilang. Tidak hanya orang dewasa yang menjadi korban tetapi juga anak-anak. Selain korban jiwa, banjir bandang juga merusak 594 bangunan yang terdiri dari permukiman, sekolah, asrama TNI, rumah sakit, dan PDAM.

Banjir bandang ini merupakan banjir terparah dan menyisakan luka yang mendalam bagi warga Garut. Pemerintah Garut perlu lebih mewaspadai kejadian ini dan melakukan berbagai kebijakan untuk mengurangi dampak yang terjadi di masa yang akan datang. Salah satu caranya adalah dengan melakukan analisis yang menjadi penyebab banjir bandang yang telah terjadi.

garut
Model kawasan banjir DAS Cimanuk dan beberapa kecamatan yang terkena dampak banjir bandang di Garut (Analisis Tim Kajian Strategis Nasional PHG Bandung)

Penyebab Banjir Bandang

Berdasarkan sumber dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia, penyebab banjir bandang di Garut adalah Kondisi bentang alam garut yang dikelilingi oleh gunung-gunung api diantaranya G. Cikuray (2.821 m), G. Galunggung (2.167 m), G. Mandalawangi (1.160 m) dan G. Guntur (2.249 m). Kondisi bentangalam ini menjadikan Garut berada di wilayah lembah dimana terdapat Sungai Cimanuk yang mengalir ke arah timur laut melalui beberapa kecamatan termasuk Garut Kota. Selain itu, material berupa batuan vulkanik dari gunung-gunung api tersebut sebagian belum terkompaksi, ditambah dengan tebalnya lapisan horizon tanah karena pelapukan akan memudahkan tanah seperti ini bergerak ketika hujan dan kemudian masuk ke bawah permukaan sungai sehingga terjadi pendangkalan.

Kondisi ini juga diperparah oleh Kegiatan alih fungsi lahan menjadi lahan-lahan terbuka (perkebunan, pertanian, dan permukiman) yang semakin menurunkan daya serap lahan terhadap air permukaan. Hal ini disampaikan oleh rektor UGM, Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers di UGM, “Dari kajian lintas disiplin, penyebab banjir bandang tidak hanya kondisi alam saja tetapi juga pengaruh dari manusia atau kondisi tata buka lahan yang tidak sesuai dengan kondisi alamnya” (26/9). Faktor lain yang menyebabkan banjir di Garut adalah curah hujan yang tinggi yaitu 255 milimeter kubik per detik dan adanya bendungan alamiah yang jebol di bagian hulu-hulu sungai karena hujan yang terus-menerus.

Keterlibatan pemerintah dalam membuat mitigasi

Setelah memahami penyebab terjadinya banjir perlu disusun rencana mitigasi oleh Pemerintah Daerah sebagai upaya untuk mengurangi dampak jika suatu saat nanti terjadi kembali berbagai situasi yang dapat menyebabkan banjir bandang. Mitigasi diharapkan dapat efektif sehingga tidak ada lagi korban yang meninggal akibat bencana banjir bandang di Garut. Perlu dilakukan analisis yang lebih komprehensif dari berbagai disiplin ilmu untuk menyusun rencana mitigasi. Salah satu yang paling efektif adalah dengan mengenalkan kepada seluruh lapisan masyarakat tentang penyebab-penyebab banjir yang diambil dari sejarah banjir yang pernah terjadi.

Memahamkan masyarakat tentang penyebab banjir dengan ilmu spasial

Salah satunya adalah memahamkan masyarakat melalui ilmu spasial. Bahwa setiap kegiatan masyarakat di satu wilayah dapat berdampak terhadap wilayah lain misalnya, pembukaan lahan dengan penebangan pohon di daerah pegunungan atau dataran tinggi bisa menjadi salah satu penyebab semakin besar potensi terjadi banjir di wilayah bagian hilir terutama wilayah yang dekat dengan sungai atau daerah yang berada di dataran yang rendah.

Sudah saatnya pemerintah menyatukan para peneliti dari berbagai disiplin ilmu untuk memberikan pengenalan yang memudahkan masyarakat untuk memahami berbagai penyebab banjir misalnya melalui gambar. Gambar dapat berupa peta wilayah yang pernah terkena banjir dengan berbagai keterangan penyebab-penyebab banjir sehingga secara perlahan masyarakat terbentuk pemahaman bahwa penting untuk menjaga ekosistem hutan di wilayah pegunungan dan masyarakat memahami betapa pentingnya untuk tidak membangun pemukiman di area rawan banjir.

Penulis: Jamjam & Tim KSN PHG Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s