Mengantar anak ke sekolah lebih baik dibandingkan dengan Full Day School

Indonesia sedang ramai dengan berbagai fenomena penyimpangan di dunia pendidikan, ada guru di Sidoarjo, Jawa Timur yang mencubit siswanya langsung dilaporkan oleh orang tua murid, kemudian menjadi terdakwa dan diganjar vonis penjara selama 3 bulan dengan masa percobaan selama 6 bulan, serta denda sebesar 250.000 rupiah (kompas.com).  Guru ini dianggap melakukan kekerasan, bukan berarti kekerasan dalam pendidikan boleh dilakukan, akan tetapi perlu dilakukannya pemeriksaan yang detail terkait tujuan dari tindakan mencubit itu.

Selain di Sidoarjo, penyimpangan lainnya terjadi di Makassar, Dahrul (52) seorang guru SMK 2 Makassar dikeroyok oleh siswa (MA) dan orang tuanya (Adnan), penyebabnya Dahrul menegur, menepuk pundak MA dan meminta MA untuk keluar dari kelas karena MA tidak mengerjakan tugas. Kemudian setelah keluar dari kelas, MA mengadu kepada orang tuanya. Beberapa saat kemudian, Adnan ayah MA datang ke sekolah dan mendatangi Dahrul, adu mulut pun terjadi sampai berujung pada pemukulan kepada Dahrul. Akibat penganiayaan tersebut, Dahrul mengalami luka memar di wajah, mulut dan hidungnya pun berdarah.

Kedua penyimpangan diatas merupakan bukti bahwa pendidikan di Indonesia membutuhkan perhatian. Seperti menyambung dengan berbagai kasus penyimpangan tersebut, satu topik yang hangat dibicarakan saat ini adalah gagasan “Full day school” dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Menurut Pak Menteri, tujuan gagasan ini adalah untuk membangun karakter anak dan agar anak tidak menjadi liar ketika orangtua mereka masih bekerja.

Alasan Pemerintah merubah menjadi full day school? Efektifkah?

Alasan yang diutarakan oleh pemerintah dalam gagasan ini lebih ditekankan pada penggunaan waktu luang para siswa setelah pulang sekolah. Dimana tidak semua orang tua dapat memberikan perhatian karena masih bekerja, sehingga diasumsikan tidak sedikit anak menggunakan waktu luangnya untuk hal negatif. Waktu luang anak dan kesibukan orang tua, menjadi dua faktor utama yang dikhawatirkan menjadi penyebab banyaknya penyimpangan. Akan tetapi perlu kajian yang mendalam apakah kondisi ini hanya terjadi di perkotaan atau juga di wilayah pedesaan? apakah penerapan full day school ini akan efektif? Bukankah pembentukan karakter anak itu berawal dari keluarga? Apakah penerapan full day school ini dapat menjadi solusi tuntas dalam membentuk karakter seorang anak?

Pendidikan keluarga merupakan dasar dari pendidikan seorang anak

Waktu luang yang dimiliki oleh seorang anak setelah pulang sekolah bukan menjadi masalah, jika saja orang tua dapat memberikan perhatian dan orang tua juga mau melakukan usaha yang lebih untuk memberikan pendidikan di rumah. Sehingga permasalahan penyimpangan anak atau proses membangun karakter bergantung pada besar kecilnya usaha orang tua dalam memberikan perhatian dan pendidikan terhadap anak, bukan penambahan jam sekolah. Dalam Keluarga, kedua orang tua memiliki peran kunci, Ayah sebagai pemimpin pada umumnya memiliki peran mendidik, mengatur dan memberikan berbagai keamanan, terutama keamanan ekonomi. Ibu memiliki peran dalam memberikan perawatan, kasih sayang, dan sekaligus pendidik utama dalam membangun karakter anak. Pada umumnya, sebagian ibu memiliki waktu lebih banyak untuk bersama anak sehingga kesempatan dalam memberikan perhatian lebih besar, jika dibandingkan dengan seorang ayah.

Ironisnya, saat ini peran kunci tersebut sudah banyak berubah, ekonomi menjadi porsi besar dalam membangun kesejahteraan, sehingga porsi perhatian untuk anak dari kedua orang tua berkurang, kedua orang tua memilih untuk bekerja. Uuntuk menjaga anaknya sebagian orang tua akhirnya memilih menggunakan jasa asisten rumah tangga, baby sitter, atau menitipkan kepada guru di sekolah “Full day school”  atau berbagai hal lainnya, sehingga sentuhan orang tua dalam memberikan perhatian menjadi berkurang. Bukan berarti usaha dalam meningkatkan kesejahteraan melalui ekonomi salah, akan tetapi porsi dalam mendidik anak di lingkungan keluarga tidak boleh berkurang.

Dalam Economic Talk yang bertajuk “Wanita dan Kemiskinan”, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM (Universitas Gadjah Mada), Endang Sih Pati., M.A. mengatakan Indonesia mengalami terus peningkatan jumlah pekerja wanita. Pada tahun 2015, jumlah wanita yang bekerja mencapai 54,44% dari total seluruh angkatan kerja wanita, bahkan untuk mengurangi kemiskinan yang terjadi pada kaum wanita, pemerintah akan terus meningkatkan jumlah pekerja wanita di Indonesia. Berdasarkan data tersebut, tidak sedikit wanita yang sudah memiliki anak harus menghabiskan waktunya untuk ikut andil dalam memperbaiki taraf hidup keluarganya, secara tidak langsung porsi perhatian seorang ibu terhadap anak akan berkurang terutama pada jam kerja.

Kebijakan pemerintah finlandia kepada orang tua dan sistem pendidikan finlandia yang luar biasa

Salah satu negara di eropa dengan jumlah tenaga kerja wanita terbesar adalah Finlandia. Uniknya Jumlah tenaga kerja Wanita yang tinggi tidak berdampak buruk pada pendidikan di negara tersebut. Sebaliknya berdasarkan penilaian PISA (Programme for International Student Assessment), Finlandia menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia selama 14 tahun berturut-turut. Bahkan 40 persen jumlah angkatan kerja wanita berusia 25 sampai 59 tahun, memiliki pendidikan yang sangat baik, rata-rata lulus dari perguruan tinggi. Sementara pada kelompok yang sama, hanya sepertiga dari total pria yang lulus dari perguruan tinggi.

Hal ini menarik untuk di kaji lebih dalam, Jumlah wanita yang bekerja lebih banyak, akan tetapi memiliki kualitas pendidikan terbaik dunia. Salah satu yang paling berperan adalah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah Finlandia. Dikutip dari Smithsonian Magazine Pemerintah Finlandia memberikan berbagai kebijakan untuk orang tua, Pemerintah Finlandia menyediakan cuti hamil untuk selama tiga tahun untuk melahirkan dan untuk membesarkan, seorang suami akan diberikan kesempatan cuti 54 hari untuk meluangkan waktu bagi bayinya. Pemerintah Finladia juga memberikan subsidi untuk biaya pre school pada setiap anak usia 5 tahun dan  memberikan subsisi untuk setiap anak sebesar 150 euro perbulan untuk sampai berusia 17 tahun. Selain itu, sekolah juga memberikan berbagai fasilitas gratis seperti menyediakan makanan, kesehatan, konseling dan layanan taksi jika diperlukan.

Pemerintah Finlandia sangat serius dalam memperbaiki kualitas pendidikan, keseriusan itu bahkan sampai terasa dengan berbagai kebijakan yang diterapkan untuk menunjang dan meringankan beban setiap orang tua, sehingga akar permasalah pendidikan pun dapat diatasi, bahkan menjadi contoh sistem pendidikan terbaik dunia. Bukan menambah jam sekolah, akan tetapi memberikan kebijakan yang lebih meringankan orang tua sehingga orang tua dapat lebih banyak menemani dan memberikan perhatian untuk anaknya.

1356167620X310
Ilustrasi Mengantar Anak Sekolah (sumber:kwikku.com)

Bisa dikatakan Konsep Mengantar Sekolah dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Sebelumnya jauh lebih baik, karena akan memperkuat ikatan orang tua dan anak. Sebaliknya jika menambah jam sekolah, secara perlahan akan memberikan jarak antara anak dan orang tua, bahkan bisa jadi tidak semua  siswa di Indonesia membutuhkan Full day School.

Penulis: Rajo D. A

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s