Ingin selalu tampil cantik? mungkin kamu akan berubah fikiran setelah membaca ini

Kecantikan dan wanita, seperti dua sisi mata uang yang saling berkaitan dan tidak terpisahkan. Tidak dapat dipungkiri setiap wanita selalu ingin tampil cantik di mata pria. Berbagai cara dilakukan untuk mempercantik diri, bahkan sejak berabad-abad lamanya, merawat dan mempercantik diri menjadi suatu kewajiban bagi wanita. Tentu definisi cantik sendiri memiliki makna yang berbeda di berbagai belahan dunia juga berubah – ubah sesuai perkembangan jaman. Beauty is Pain, mungkin selogan tersebut menjadi kesepakatan umum bagi para wanita dari masa ke masa dan cukup menggambarkan betapa kecantikan diperoleh dengan usaha dan pengorbanan.

enhanced-buzz-wide-4577-1434623008-7
Foto kaki Yang Jinge, by: Jo Farrel (www.buzzfeed.com)

Di Cina misalnya, pada awal abad 10 M cantik diartikan memiliki ukuran kaki yang super kecil, wanita cina pada masa itu melakukan ritual Foot Binding atau proses menghentikan pertumbuhan kaki untuk mendapatkan ukuran kaki yang ideal. Untuk mendapatkan ukuran kaki 3 inci atau sama dengan 10-15 cm orang tua yang memiliki anak gadis harus melipat 4 jari kaki anaknya menggunakan seutas tali dengan sekuat tenaga hingga tulang tulang jari kaki tersebut patah juga dengan melipat ibu jari ke arah tumit. Sungguh sangat menyiksa jika membayangkan gadis kecil berumur 5 tahun harus menahan rasa sakit yang luar biasa, bahkan untuk berjalan mereka sangat kesulitan karena hanya mengandalkan tumit sebagai tumpuan. Tidak hanya itu, kebiasaan ini sangat beresiko karena dapat menyebabkan pembusukan pada daging kaki. Kebiasaan ini awalnya hanya diperuntukkan untuk para bangsawan, namun menjadi tradisi dan berlaku untuk semua kalangan, bahkan menjadi syarat suatu pernikahan karena laki laki pada masa itu hanya akan menikahi wanita yang sudah melakukan ritual ini. traisi ini berlaku seribu tahun lamanya, dan mulai ditinggalkan setelah jatuhnya Dinasti Qing ditandai dengan berdirinya Republik Tiongkok pada tahun 1911.

ef5b000000000000
Biris Paul Silviu/Moment Mobile/Getty images (www.allday.com)

Tradisi yang tidak kalah menyakitkan dan sampai saat ini masih dijalankan oleh sebagian besar wanita suku kayan Burma (Thailand) adalah memasangkan leher mereka dengan lilitan logam sejak usia lima tahun. Selain menjalankan tradisi, mereka meyakini bahwa dengan memiliki leher yang jenjang menjadi daya tarik seksual tersendiri, mereka mengibaratkan leher panjang mereka seperti leher seekor naga yang kuat dan indah. Selain dianggap cantik banyaknya lilitan juga menentukan status social, setiap tahun lilitan besi tersebut akan terus bertambah seiring dengan pertambahan umur mereka. Menjadi cantik ala wanita suku kayan bukan tanpa pengorbanan, pengunaan lilitan besi pada leher mereka mengakibatkan kesulitan bernapas dan otot-otot leher menjadi lemah tidak berfungsi sehingga rentan patah dan bisa mengakibatkan kematian. Itu kenapa mereka tidak pernah melepaskan lilitan besi tersebut sepanjang hidup mereka.

Di bagian dunia lainnya seperti di Mouritania Afrika Barat, semua penduduknya memiliki pandangan yang berbeda mengenai definisi cantik. Dimana wanita yang cantik adalah wanita yang tambun alias gendud, berbeda dengan kebanyakan wanita di belahan dunia manapun yang sangat takut gendud bahkan rela melakukan serangkaian bedah plastik untuk mengangkat lemak di tubuh mereka. Untuk mendapat ukuran tubuh ideal, sejak kecil anak-anak wanita Mouritania diwajibkan melakukan tradisi penggemukan badan dengan pemberian makan terus menerus. Bahkan ketika beranjak remaja dan dianggap telah siap dinikahkan mereka akan dibawa ke sebuah camp khusus untuk proses penggemukan. Tidak tanggung-tanggung mereka harus mengabiskan 45 liter susu unta dan makanan lainnya yang mengandung banyak kalori sekitar 1600 kalori per harinya. Praktik ini diawasi ketat oleh orang tua si anak, bahkan orang tua mereka tidak segan menjepit jari kaki anaknya dengan penjepit yang terbuat dari kayu apabila si anak menolak untuk makan makanan tersebut. Tidak hanya itu apabila si anak memuntahkan makanannya, mereka akan memungut dan memaksa anak mereka untuk memakan muntahan tersebut. Semua yang dilakukan hanya untuk mendapatkan pasangan, semakin gendud maka akan semakin di sukai oleh para pria di Mouritania.

Di Indonesia sendiri, praktik ekstrim demi mendapatkan predikat cantik dilakukan oleh wanita suku mentawai. Gigi runcing seperti hiu merupakan dambaan para pria di suku ini. Praktik meruncingkan gigi ini sangat menyakitkan, pasalnya untuk meruncingkan gigi mereka dilakukan tanpa anestesi dan hanya menggunakan pahat tajam. Sedangkan untuk mengurangi rasa sakit, mereka mengunyah pisang hijau mentah. Praktik ini wajib dilakukan oleh wanita istri kepala desa, mereka percaya dengan meruncingkan gigi dapat menjaga keseimbangan antara tubuh dan jiwa.

Jika ditelisik lebih dalam bagaimana dan seperti apa seorang wanita memaknai arti kecantikan ternyata makna cantik itu sendiri sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Pengaruh lingkungan, ideologi dan agama serta keputusan kelompok melahirkan tradisi berupa sebuah kepatutan atau kesepakatan umum yang wajib dipatuhi pengikutnya. Demikian halnya dengan makna cantik yang telah dikemukakan sebelumnya si belahan dunia yang berbeda. Dengan tindakan pemaksaan yang di luar nalar pun masih dianggap sebuah kewajaran, padahal Allah SWT berfirman dalam surat Huud : 101 ;

“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, Karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidak menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.” (QS. Huud : 101).

Beberapa pembaca mungkin akan menyanggah karena analogi di atas sudah tidak relevan, kekerasan fisik berupa pemaksaan sudah ditinggalkan penduduk di negara maju dan berkembang, namun agaknya mereka lupa bahwa pemaksaan dalam bentuk lainnya sedang terjadi dan menjangkiti masyarakat perkotaan masa kini. Tidak disadari, perlahan tapi pasti praktik plastic surgery bukan merupakan hal tabu dan akan menjadi tradisi (budaya baru), semua berpangkal dari definisi cantik itu sendiri dimana cantik masa kini diartikan wanita dengan kulit putih, hidung mancung, wajah tirus, bibir kecil dan rambut panjang. Bagi mereka yang mampu secara financial tentu plastic surgery menjadi jalan keluar, namun bagi sebagian lainnya yang  tidak cukup beruntung akan merasa rendah diri dan menjadi korban Bullying. Di Korea Selatan dimana 9 dari 10 remaja nya sudah dipastikan pernah melakukan plastic surgery, keadaan menjadi sulit bagi mereka yang tidak memenuhi karakteristik cantik seperti di atas. Untuk masuk ke lingkungan dimana menjadi cantik adalah suatu keharusan tidaklah mudah, dimana mereka rela bekerja matia-matian hanya untuk melakukan operasi plastik. Merubah bentuk, memotong bagian dari wajah bukan tanpa rasa sakit, butuh waktu ber bulan bulan untuk mendapatkan wajah yang diinginkan pasca operasi dilakukan.

Mungkin kita bisa bernafas lega hidup di Indonesia, setidaknya sampai saat ini kita masih menemukan wajah wajah original yang masih belum tersentuh pisau bedah, namun ketika serangan budaya lewat brain storming ini sudah tak terbendung akan kah kita mampu menghalaunya? Akan seperti apa wajah generasi muda kita dengan gempuran budaya Plastic Surgery ini dimasa yang akan datang? Tentu hal ini menjadi bahan renungan bersama, bahkan dalam Hadist Rosululloh disebutkan ;

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tapi ia melihat hati dan amal kalian “ (HR. Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah)

Dalam hadist lain juga disebutkan ;

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalehah” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai)

Ketika penilaian manusia bisa tergelincir, kembalikan segala urusan pada Al-Quran dan Hadist, disitulah kita akan menemukan kebenaran.

Penulis: Lia Suratna

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s