Waspada Kebangkitan PKI di Nusantara

Apa reaksi anda jika mendengar kata PKI? Apakah menakutkan atau biasa-biasa saja? Orang yang tau sejarah bangsa ini, Indonesia, pastilah “trauma” dan khawatir mendengar kata PKI mulai merebak kembali ke permukaan. Bagaimana tidak, partai yang mengusung ideology komunisme ini telah melukai dan menciderai dasar Negara bangsa ini, yaitu Pancasila. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 atau lebih dikenal G30S PKI menjadi bukti kebiadaban golongan ini dalam mengimplementasikan ideologinya. Pembantaian tokoh-tokoh penting masyarakat dari mulai para jenderal hingga para ulama pada peristiwa tersebut memberikan bekas luka mendalam bagi rakyat Indonesia.

simpatisan-dan-kader-partai-komunis-indonesia-_151010120827-164
Simpatisan dan Kader Partai Komunis Indonesia. (sumber: nasional.republika.co.id)

Saat ini, Indonesia dihebohkan dengan isu-isu kebangkitan PKI di tanah air. Buktinya pun tidak sedikit, atribut-atribut PKI mulai bermunculan dalam berbagai varian. Beberapa diantaranya bahkan secara terang-terangan. Sebutlah pada tahun 2015 terdapat pawai dengan atribut PKI pada acara HUT RI di Pamekasan atau lagu genjer-genjer, yang merupakan lagu bernuansa PKI, yang dinyanyikan saat konser music di  Mojokerto. Belum lagi pin dan kaos berlambang PKI yang dikenakan oleh segelintir remaja di Jakarta. Kemudian hal ini seakan diperkuat dengan niatan Presiden Jokowi untuk meminta maaf dan memberikan kompensasi kepada para korban pemberantasan antek-antek PKI pada masa lampau. Hal tersebut apakah hanya kebetulan semata? Atau ada sesuatu yang memang sudah direncanakan jauh-jauh hari? Tentunya ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Banyak teori bermunculan mengenai meruaknya kembali PKI di tanah air. Setidaknya ada 5 teori yang menjelaskannya, yaitu pengalihan isu, tanda terbentuknya aliansi lama, keisengan masyarakat, kelemahan intelejen, dan tanda kebangkitan PKI. Namun yang menarik adalah kelima teori tersebut jika ditelusuri dapat bermuara pada satu teori, yaitu memanglah tanda kebangkitan PKI. Empat teori lainnya sangat logis diciptakan untuk mendukung sukses terwujudnya kebangkitan PKI itu sendiri. Dengan kata lain, teori-teori yang lain hanyalah bagian dari masterplan kembalinya eksistensi PKI di tanah air agar masyarakat terkecoh dan tidak menyadari adanya rencana tersebut.

Di samping itu, patut dicermati pula pengaruh Tiongkok yang semakin besar di Indonesia akhir-akhir ini. Kebijakan pemerintah dalam keterbukaan investasi bagi perusahaan asing di Indonesia seakan-akan menjadi lampu hijau bagi Tiongkok untuk mengambil bagian menanamkan pengaruhnya dalam tatanan pembangunan nusantara. Peminjaman biaya untuk proyek-proyek infrastruktur nasional pun banyak berasal dari Tiongkok, sebutlah proyek Kereta Api Cepat Bandung-Jakarta yang berhasil dimenangkan oleh Tiongkok setelah mengalahkan proposal dari Jepang.

Lantas memang kenapa kalau Tiongkok yang mendominasi investasi asing maupun proyek-proyek infrastruktur nasional? Indonesia merugi kah? Hubungannya apa sama isu kebangkitan PKI? Jika kita sedikit surfing mengenai negara tirai bambu ini maka kita akan mendapati bahwa Tiongkok adalah negara berlandaskan ideology komunisme, bahkan lambang negaranya pun merupakan symbol komunisme yang sudah mendunia, yaitu palu dan arit. Lambang tersebut pula lah yang digunakan dalam bendera PKI. Kemudian ternyata dibalik kontrak megaproyek yang telah disetujui antara pemerintah dengan Tiongkok terdapat isu bahwa salah satu point di kontrak tersebut adalah bahwa akan ada pegawai-pegawai bangunan asli Tiongkok yang mengerjakan proyek tersebut. Artinya, tenaga kerja yang terserap tidak semuanya dari pribumi, bahkan dari mulai tingkat pimpinan proyek hingga tingkat kuli bangunan terdapat tenaga kerja yang langsung didatangkan dari Tiongkok, tentunya tidak secara terang-terangan. Menurut Tempo (2015), terdapat migrasi besar-besaran pekerja asing asal Tiongkok ke Indonesia, hingga Juni 2015 saja telah ada lebih dari 50 ribu pekerja dari Tiongkok masuk ke Indonesia baik secara legal maupun illegal dan itu pun telah diketahui oleh Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakari. Dengan makin banyaknya pekerja-pekerja Tiongkok ke Indonesia dan makin tingginya pengaruh Tiongkok di Indonesia maka lambat laun dapat dipastikan bahwa ideology komunisme pun akan dengan sangat mudah masuk ke sela-sela kehidupan masyarakat Indonesia. Konsekuensi logisnya, kebangkitan PKI pun menjadi suatu hal yang rasional untuk diwujudkan.  Bukankah begitu?

Masyarakat Indonesia, khususnya umat islam dan ormas-ormasnya pun tidak tinggal diam dengan merebaknya upaya kebangkitan PKI ini. Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Forum Umat Islam (FUI) satu suara menentang keras terhadap upaya-upaya kebangkitan PKI. Prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan yang bertolak belakang dengan Pancasila tentunya merupakan landasan utama menentang keras kembalinya eksistensi PKI di Indonesia. Pemerintah seharusnya secara tegas memberantas upaya-upaya membangkitkan ideology komunis dengan berlandaskan Undang Undang (UU) No. 27 tahun 1999 yang sangat jelas menjelaskan tentang hal tersebut. Namun, jika pemerintahannya saja memiliki isu kedekatan dengan pejabat elit komunis, lantas kitalah, sebagai masyarakat Indonesia, masyarakat beragama, sudah sepatutnya waspada dan bertindak memberantas upaya kebangkitan PKI ini. Tetap waspada dan bersama-sama kita berantas komunisme di nusantara!

Penulis: Lutfi Yusuf

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s