Negara Besar Bermental Kerdil

Mobil listrik type sport di Balai Kota Bandung, Selasa (26/11).
Monil Listrik/Ilustrasi (republika/Edi Yusuf)

Masih ingat dengan mobil listrik Indonesia?…..Ya,mobil karya anak bangsa bernama selo tersebut tidak terdengar lagi kabarnya. Merasa kecewa, Ricky Elson sang putra petir sebagai otak di balik kuda listrik tersebut berhenti bergulat dengan mobil listrik. Proyek mobil listrik yang seyogyanya dapat mengangkat martabat Indonesia sejajar dengan negara maju kandas dengan nasib yang tidak jelas. Dukungan pemerintah lagi-lagi tidak bisa diharapkan. Bahkan banyak pejabat pemerintah yang merendahkan karya Ricky Elson dan menganggap mobil listrik itu belum layak komersil. Akhirnya kita siap jatuh ke lubang yang sama, lubang yang menjadikan kita sebagai bangsa pengekor dan bangsa yang tergantung pada orang lain.

Saat ini kita sudah jatuh menjadi konsumen setia produk kendaraan impor berbahan bakar minyak. Lima belas tahun kemudian kemungkinan besar kita akan kembali menjadi pasar potensial mobil listrik Jepang, Amerika dan Eropa. Ketika sekarang mobil listrik masih dianggap teknologi canggih, yang bahkan negara maju pun masih dalam tahap pengembangan, bukan tidak mungkin sedikit apresiasi dan follow-up yang lebih serius terhadap karya anak bangsa akan membawa kita kepada tonggak kebangkitan teknologi Indonesia yang kedua.

Ya… yang kedua. Kebangkitan teknologi nasional pertama adalah ketika pesawat buatan anak negeri N250 mengudara. Momen itu, yakni tanggal 10 agustus 1995, dijadikan sebagai hari kebangkitan teknologi nasional. Sayangnya nasib pesawat N250 sebenarnya setali tiga uang dengan mobil listrik selo. Ketika kita memiliki peluang untuk melesat sejajar dengan negara maju, ternyata kondisi dalam negeri kita tidak mendukung untuk itu. Di tahun 1998 pemerintah kita tunduk kepada IMF yang meminta Indonesia untuk menghentikan proyek PT.IPTN (nama PT.DI saat itu). Ditambah lagi, muncul berbagai sindiran dari orang Indonesia sendiri bahwa proyek N250 memakan dana terlalu besar dan dipertanyakan penyalurannya. Akhirnya, Gatot Kaca (nama lain N250), yang saat itu bersaing dengan pesawat ATR72 buatan Perancis, berhenti terbang dan kembali kita menjadi konsumen pesawat teknologi luar.

Sedih… karena sekarang, sesuai prediksi, kita memerlukan pesawat-pesawat sekelas N250 untuk penerbangan perintis. Ironisnya, kita malah membeli banyak pesawat MA60 dari Cina untuk penerbangan antar pulau. Padahal MA60 sebenarnya sekelas dengan pesawat N250, bahkan pesawat N250 dianggap lebih canggih. Jika saja saat itu sejarah berpihak kepada kita, kini Indonesia mungkin akan menjadi bangsa yang lebih mandiri dan terdepan dalam berbagai bidang, tidak terkecuali otomotif. Bagaimana tidak… teknologi pesawat terbang adalah yang paling rumit. Orang bilang, “Kalau bikin pesawat aja bisa, masa bikin mobil ngak bisa?”

Ah, tapi apa mau dikata. Penyesalan memang datang terakhir. Dengan terhentinya proyek N250 dan sekarang mobil listrik selo, sepertinya kita memang harus menerima menjadi bangsa inferior, bangsa yang dibelakang, bangsa yang berada di bawah ketiak orang lain. Entah karena banyak orang luar yang tidak suka Indonesia sejajar dengan negara lain atau memang orang Indonesianya sendiri yang sudah merasa puas menjadi negara buntut. Yang jelas, keterbelakangan teknologi merupakan salah satu faktor kita dianggap sebagai bangsa kelas dua dan menjadikan orang-orangnya bermental rendah.

Mental Inferior Indonesia

Saat ini, perasaan Inferior sepertinya sudah tertanam dalam diri bangsa Indonesia. menurut seorang pakar psikologi Alfred Adler, inferiority feeling adalah rasa diri kurang atau rasa rendah diri yang timbul karena perasaan kurang berharga atau kurang mampu dalam penghidupan apa saja. Banyak contoh yang menunjukkan bahwa kita sebagai orang Indonesia sering rendah diri atau menilai rendah diri sendiri dibandingkan orang luar.

Di perusahaan tempat saya bekerja, kami selalu didampingi konsultan dalam membuat fasilitas baru. Berhubung fasilitas baru harus sesuai dengan banyak regulasi GMP internasional, maka konsultan pembangunan pun kami datangkan dari Eropa. Pada proses perjalanannya, ternyata banyak kejanggalan yang ditemukan pada desain gedung buatannya. Setiap kami tanya mengenai kejanggalan-kejanggalan itu, konsultan bule tersebut biasanya memberikan argumennya dengan cukup yakin dan membuat semua perwakilan perusahaan menerimanya baik dengan terpaksa ataupun sukarela. Lucunya, mayoritas perwakilan perusahaan merasa “masa sih konsultan bule salah”. Sekian lama proses perencanaan fasilitas tersebut berjalan, tidak ada yang protes terhadap ide konsultan tersebut, hingga datang komentar dari konsultan lain, mantan auditor WHO. Beliau mengatakan bahwa fasilitas yang telah didesain salah besar bahkan harus didesain ulang dari awal. Komentar tersebut dikuatkan oleh konsultan lain dari Canada yang juga ahli GMP yang menyatakan bahwa terdapat kesalahan cukup fatal pada desain fasilitas itu. Akhirnya, fasilitas yang sudah siap dibangun mendadak ditangguhkan dan ditinjau ulang. Pejabat dan petinggi perusahaan mendadak seperti kebakaran jenggot dan barulah berani mengkritisi semua desain konsultan Eropa tersebut. “Ck ck, kemaren kemana?” gumam saya dalam hati, kecewa terhadap respon pejabat yang munculnya telat, padahal sudah banyak orang yang ribut mengenai hal itu dari dulu. Singkat cerita, kami semua yang terlibat proyek, berkumpul dan mendesain ulang fasilitas tersebut. Setelah dikonsultasikan dengan pihak penentu kebijakan, desain kami dianggap lebih baik.

Contoh lain, atasan saudara saya yang seorang istri guru besar di salah satu Perguruan Tinggi Negri terbaik di Indonesia pernah bertutur bahwa jika dilihat dari besarnya penghargaan materi yang diberikan kepada suaminya ketika diundang sebagai pembicara di dalam forum-forum dalam negeri, itu lebih kecil dibandingkan jika tamu dari luar negeri yang diundang. Ini bukan masalah matre, katanya, tapi gemas melihat betapa seringnya kita dianak tirikan di negeri sendiri. Dengan nada kesal ia berkata “Emang suami saya lebih g*b**k dibandingkan profesor luar apa?”. Padahal, kredibilitas dan kiprah suaminya ini sudah diakui dunia. Itulah…sering orang Indonesia sendiri yang menganggap bahwa bangsanya undergrade, berada di bawah orang luar negeri. Padahal kalo bukan kita yang menghargai anak negeri sendiri, siapa lagi?

Satu contoh lagi, teman baik saya juga menceritakan hal serupa. Ia bekerja di sebuah lembaga bahasa yang tugasnya adalah mengedit manuskrip-manuskrip ilmuwan Indonesia yang ingin terbit di jurnal internasional. Lembaga ini telah menjalin afiliasi yang kuat dengan salah satu universitas di Indonesia. Sebenarnya, universitas tersebut juga memiliki rekanan lain yang berisi editor-editor native speaker. Tapi, lembaga tempat teman saya bekerja sering lebih dipilih karena pada akhirnya mereka yang lebih mengerti apabila mendapat manuskrip yang dari segi bahasa sangat acak kadut. Menggunakan editor dalam negeri dapat meminimalisir terjadinya miss-interpretasi ketika suatu kalimat/paragraf yang bahasa Inggrisnya kacau harus di-rephrase. Nah, yang bikin gigit jari adalah… walaupun pihak universitas tahu keunggulan lembaga editor ini; tak sedikit manuskrip yang diedit (yang awalnya ga ketulungan jeleknya dari segi bahasa) akhirnya bisa tembus jurnal internasional, tetap saja rate harga yang dibayarkan masih jauh dibandingkan jika mereka pakai native speaker. Ya…walaupun memang tetap tinggi kalau untuk ukuran dalam negeri sih, jadi si universitas ini masih bisa dimaafkan lah. Tapi…yang minta ditimpuk sendal adalah ketika ada klien dari universitas lain yang mencoba menawar harga sangat rendah. Padahal mereka telah tahu track record, bahkan sempat mencicipi kemampuan si lembaga ini. Alasannya? “Kalian kan bukan native speaker, jadi harganya dimurahin lagi dong”. WHAT….? Apakah karena sesama orang Indonesia lantas mereka berhak menilai murah keahlian yang dimiliki saudaranya? Tentu saja akhirnya ditolak; lembaga ini masih punya harga diri. Tapi ya itu, seakan-akan sudah jadi mindset yang terpatri bahwa orang Indonesia itu lebih tidak mampu, jadi sudah selayaknya bayarannya juga rendah.

Itulah penyakit yang banyak diderita oleh orang Indonesia, yakni inferiority complex. Kalau berhadapan dengan orang luar, kita sudah ibarat kerbau dicocok hidung saja. Namun giliran menghadapi saudara sendiri apa-apa dipersulit, apa-apa dianggap tidak bisa, apa-apa dipandang sebelah mata. Saking parahnya penyakit ini sampai-sampai kita rela puluhan tahun kekayaan alam kita dieksploitasi besar-besaran oleh bangsa lain. Habis sudah dua bukit di Tembagapura karena dikeruk oleh perusahaan asing. Berpuluh-puluh tahun mereka mengambil tembaga plus emas-emas nya di sana dengan imbalan yang rendah untuk Indonesia. Tiga sungai yang mengalir ke laut Arafura juga telah rusak akibat penambangan tersebut, namun oknum-oknum Indonesia tetap saja mendukung eksistensi mereka di bumi Papua. Etah takut entah apa tetapi merevisi kontrak yang sudah jelas-jelas tidak adil saja nampaknya mereka enggan sekali. Sehubungan dengan hal ini seorang guru besar UGM dan pakar politik, Amin Rais, pernah bertutur “yang kita alami sesungguhnya adalah sebuah malapetaka kebodohan, rasa rendah diri yang berlebihan (inferiority complex) dan sekaligus rasa tidak percaya diri.”

Kesetaraan Indonesia

Darimanakah akar mental inferior ini berasal? Menurut beberapa pengamat, perasaan inferior yang dimiliki oleh orang Indonesia disebabkan oleh penjajahan Belanda yang cukup lama, 350 tahun. Stigma sebagai kaum terjajah sepertinya melekat pada bangsa Indonesia yang sekaligus menjadi alasan bagi orang-orang Indonesia untuk merasa bahwa orang-orang bule lebih hebat dari mereka. Namun, berbicara mengenai lama penjajahan, apakah benar Indonesia dijajah Belanda selama itu? Jawabannya yang lebih tepat adalah Belanda membutuhkan waktu 300 tahun untuk menaklukan Indonesia.

Guru besar sejarah Unpad, Prof. Nina Herlina Lubis, mengatakan bahwa Belanda datang pertama kali ke Indonesia tahun 1596 sebagai pedagang di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Pada tahun 1602, dibentuklah Verenigde Oost-Indische Compagnie (Serikat Perusahaan Hindia Timur) atau disingkat VOC yang selanjutnya diberi Octrooi (Izin dagang) oleh pemerintahan Belanda. Dengan izin ini mereka berhak melakukan diplomasi dan mengamankan sumber-sumber perdagangan bahkan bila perlu dengan peperangan. Lalu, semenjak tahun 1619 hingga 1630, VOC berhasil menguasai Batavia dan Ambon, namun kekuasaan kota pelabuhan di Jawa baru diserahkan tahun 1677-1709 oleh Mataram, sedangkan di daerah pedalaman, raja dan bupati masih berkuasa penuh; mereka hanya menjadi “tusschen personen” (perantara). Di tahun 1799, Belanda kemudian mengambil alih dan membubarakan VOC karena telah menjadi korup. Selama beberapa abad kemudian, Belanda berusaha mengkonsolidasikan kekuasaan di Nusantara dan harus menghadapi banyak peperangan seperti Perang Padri (1821-1837), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh (1873-1912). Jadi, Belanda baru bisa menguasai Indonesia secara keseluruhan tahun 1912, yaitu setelah ditaklukannya Aceh. Oleh karena itu, penjajahan Indonesia selama 350 tahun hanyalah mitos belaka. Hal itu berarti bahwa para pedahulu kita bukanlah bangsa yang lemah dan mudah menyerah terhadap tekanan asing. Terus dan terus mereka berjuang melawan penjajah Belanda walau harus mengorbankan jiwa dan raga. Saat ini, semangat itu seyogyanya masih mengalir dalam jiwa para penerus bangsa Indonesia.

Kita memiliki kekayaan alam yang besar. Berbagai sumber bahan tambang yang kandungannya merupakan peringkat 3 hingga 10 besar dunia ada di Indonesia. Lalu, berdasarkan data IMF-WEO April 2016, sumber pendapatan Negara (GDP) kita termasuk urutan ke-8 terbesar di dunia, sehingga kita masuk dalam kelompok G20. Oleh IMF, ekonomi kita diprediksi akan menjadi yang terbesar ke-5 pada tahun 2030. Potensi sumber daya manusia kita pun besar. Telah banyak putera negeri ini yang karyanya mendunia seperti Prof. B.J. Habibie dengan rumus “Faktor Habibie”nya. Pemegang 46 paten bidang aeronautika pernah mendapatkan von Karman award, yaitu penghargaan setara nobel. Kemudian lihatlah Ricky Elson yang memiliki paten 14 teori motor listrik (motor listrik adalah bagian tersulit dalam pembuatan mobil listrik). Lalu Warsito Teruno, sang pemilik paten 4D scanner yang teknologinya dipakai oleh NASA. Doktor lulusan Jepang itu saat ini sedang mengembangkan terapi pembunuh sel kanker yang disebut ECVT. Belum lagi adik-adik kita yang berprestasi di berbagai ajang olimpiade internasional seperti fisika, kimia, biologi dan astronomi. Medali perunggu, perak bahkan emas pun mereka sabet setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa kita bisa bersaing dengan orang-orang dari negara maju sekalipun. Lalu kenapa kita masih merasa rendah diri? Kita layak dan mampu sejajar dengan bangsa lain. Kini saatnya kita memupuk rasa percaya diri kita sebagai bangsa yang besar dan buang jauh-jauh mental inlander, mental orang terjajah.

By : Arif Rahman  S.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s