Lanjut Studi, Kerja, atau Buka Usaha Sendiri?

Salah satu pilihan yang paling mencuat dalam kehidupan generasi muda adalah tentang langkah berikut setelah selesai menjalani kuliah. Kuliah merupakan rangkaian akhir dari ‘ritual’ kehidupan manusia modern, dimana seseorang belajar tentang hak dan kewajibannya dalam lingkungan yang terkendali. Akan tetapi, setelah masa itu berakhir, manusia memasuki masa dimana ia harus belajar tentang hak dan kewajibannya dalam lingkungan yang tidak terkendali.

setelah-kuliah(1)
Ilustrasi Setelah Kuliah, By : Rajo D.A

Setelah kita selesai menjalani pendidikan kuliah, kita memasuki dunia kerja. Walau tidak semua orang yang lulus kuliah lanjut bekerja, dunia kerja ini bisa disebut sebagai lingkungan yang tidak terkendali karena batas-batas hak dan kewajiban seorang individu lebih bebas dibanding di dunia pendidikan.

Artinya, ketika menjalani sekolah, kita lebih sering diberitahu apa yang harus dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan di dunia kerja, tidak ada yang memberitahu kita apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan, setidaknya dalam konteks pilihan kehidupan pribadi.

Akibatnya, pada masa transisi antara dunia sekolah dengan dunia kerja, banyak dari kita yang tidak terlatih atau belum bisa menentukan pilihan sendiri. Hal ini karena selama ini banyak dari kita yang terbiasa dengan adanya orang lain yang menentukan pilihan untuk kita.

Contohnya:

  • Sewaktu kecil kita disuap dan dipakaikan baju oleh ayah atau ibu kita
  • Semasa remaja kita dimasukkan sekolah yang sesuai dengan keinginan orang tua kita (mungkin dengan pertimbangan dari keinginan kita juga)
  • Bahkan bisa jadi kita masuk jurusan kuliah yang dipilih oleh orang tua kita dan bukan hasil dari pemikiran kita sendiri

Tentunya tidak semua dari kita mengalami hal yang serupa. Tetapi cukup banyak dari kita yang menjadi tidak terlatih mengambil keputusan sendiri karena sudah terbiasa mengikuti keputusan orang lain. Saat kita harus membuat keputusan yang menentukan arah hidup kita, kita jadi bingung dan bimbang karena belum bisa menggunakan daya pikir kita sepenuhnya untuk menentukan pilihan yang tepat.

Bila kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri, kita akan merugikan diri sendiri karena membuang waktu dan juga membuang kesempatan yang berharga akibat salah memilih. Oleh karena itu, baiknya kita mampu mengambil pilihan kita sendiri – dengan segala konsekuensinya – agar bisa mencapai tingkat kesejahteraan hidup yang lebih baik dari saat ini.

Bimbang karena ketidakjelasan

Tantangan yang muncul saat kita memasuki transisi antara dunia sekolah dengan dunia kerja adalah menghadapi kebimbangan yang kita rasakan. Kebimbangan ini membuat kita berat untuk mengambil keputusan dan memperlambat laju kita dalam kehidupan. Bahkan ada diantara kita yang memilih untuk ‘abstain’ – menghindari mengambil keputusan atau hanya diam saja menunggu sesuatu terjadi.

Kebimbangan ini muncul karena ketidakjelasan atau keburaman. Kita tidak memiliki kejelasan tentang apa konsekuensi dari pilihan yang tersedia bagi kita. Karena kita belum terbiasa membuat keputusan sendiri, maka kita belum terlatih untuk melihat dengan jelas konsekuensi suatu pilihan.

  • Apa yang akan terjadi seandainya saya memilih lanjut kuliah?
  • Apa yang akan terjadi bila saya memasuki dunia kerja?
  • Apa akibatnya kalau saya mulai buka usaha sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan ini mengandung begitu banyak ketidakjelasan. Ketidakjelasan inilah yang membuat otak kita merasa buntu ketika harus berhadapan dengannya. Karena yang kita jumpai hanyalah ketidakjelasan, maka kita pun merasa malas untuk terus menggali permasalahannya hingga menemukan jawaban yang memuaskan.

Selain karena belum terbiasa membuat keputusan sendiri, ketidakjelasan muncul karena kita belum mengenal diri kita sendiri. Di sekolah kita dididik untuk memecahkan berbagai macam persoalan yang rumit, tetapi kita tidak dilatih untuk mampu mengenali diri sendiri. Terutama, kita perlu mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri karena faktor-faktor inilah yang mampu membantu kita untuk menemukan kejelasan yang kita cari.

Selanjutnya, karena kita belum mengenal diri sendiri maka umumnya kita belum memiliki arah hidup pula. Selama menjalani dunia sekolah, arah hidup kita ditentukan oleh sistem pendidikan formal dalam bentuk jurusan sekolah (ilmu alam atau ilmu sosial) dan dalam bentuk jurusan kuliah. Selepas dari itu, kita memasuki dunia kerja dimana tidak ada rambu-rambu panah yang menunjukkan mana arah yang paling cocok untuk kita tempuh, yang sesuai dengan kekuatan dan kelemahan kita.

Oleh karena itu, untuk menemukan jawaban yang kita cari, kita harus menemukan kejelasan. Kita harus mengetahui dengan jelas apa saja konsekuensi dari pilihan yang tersedia, baik konsekuensi yang kita nilai diinginkan ataupun tidak diinginkan. Kita perlu mempelajari apa kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Kita tidak harus menemukan kejelasan yang paling murni, melainkan kejelasan yang cukup jelas bagi kita untuk mampu melangkahkan kaki ke depan.

Kenali arah hidup diri sendiri

Karena membuat keputusan berakibat kita harus berhadapan dengan ketidakjelasan, kita menjadi ragu dan lebih memilih kembali ke hal-hal yang sudah familiar. Hal-hal yang familiar terasa jelas bagi kita dan terasa aman sehingga kita nyaman di dalamnya. Sayangnya, hal-hal yang familiar belum tentu merupakan pilihan yang terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan kita setinggi mungkin.

Agar kita memiliki amunisi untuk berhadapan dengan ketidakjelasan, kita harus mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Kita bisa mengenal diri sendiri melalui pengalaman hidup atau bertanya kepada orang yang mengenal kita. Ada beberapa cara eksak untuk mencari tahu kekuatan dan kelemahan diri kita tetapi tidak akan dibahas di kesempatan kali ini.

Selain itu, kita harus mencari arah hidup yang benar sesuai dengan pilihan kita, bukan atas perintah orang lain atau pilihan orang lain. Mencari arah hidup bukanlah pekerjaan semalam atau semudah membalikkan telapak tangan, melainkan sebuah proses yang terus berjalan yang terdiri atas kesalahan-kesalahan dan perbaikan diri. Semakin kita belajar dari kesalahan dan memperbaiki diri, semakin jelas arah hidup yang benar untuk kita tempuh.

Tidak ada pilihan yang salah dalam memilih lanjut studi, kerja, atau buka usaha sendiri. Ketiga-tiganya baik untuk kita lakukan selama pilihan yang kita ambil diputuskan berdasarkan kejelasan arah hidup yang benar. Ketika pilihan itu dibuat dengan penuh ketidakjelasan, maka pilihan apapun yang diambil hasilnya pasti tidak maksimal dan bisa berakibat kerugian. Dengan memiliki kejelasan tentang diri kita dan arah hidup yang benar, maka kita akan mampu memilih langkah berikutnya yang tepat bagi kita.

By : Endy Daniyanto

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s