Berbagi Sumber Daya Energi Bersama Bangsa Serumpun

Jauh di dasar laut di dekat kepulauan Natuna, 145 meter dalamnya dari permukaan air laut yang berkilauan, biota-biota laut hidup, berkembang biak, dan berinteraksi satu sama lain. Natuna adalah lokasi bagi lahan terumbu karang yang luas yang menjadi rumah dari berbagai jenis spesies ikan, crustacea, dan organisme lain. Kekayaan hayati laut Natuna telah memberikan kehidupan bagi nelayan-nelayan Indonesia dan negara-negara tetangganya seperti Vietnam, Filipina, dan Malaysia. Lokasi Natuna yang berdekatan dengan sejumlah negara-negara Asia Tenggara, menyebabkan kepulauan milik Indonesia yang hanya berjarak 600 km dari Singapura ini menjadi titik ekonomi strategis di ASEAN, bahkan di Asia.

kepulauan-natuna
Ilustrasi By : Rajo D.A.

Sekitar 225 km ke timur dari kepulauan ini, sejumlah perangkat rig perusahaan minyak dan gas berdiri kokoh siap menembus lapisan bebatuan di dasar laut Natuna untuk merecover gas alam ke permukaan. Selain dikaruniai keanekaragaman hayati yang luar biasa, Natuna juga adalah kantung penyimpanan alami untuk sekitar 1,300 triliun meter kubik gas alam (yang sudah terbukti)[1]. Jumlah gas sebanyak ini menempatkan Indonesia di urutan kedua sebagai pemilik cadangan gas bumi terbanyak setelah Tiongkok di kawasan Asia Pasifik, mengalahkan Malaysia, India, dan Australia[2].

Tidak semua hal yang membanggakan bisa selalu dinikmati sendiri oleh pemiliknya. Indonesia yang tergabung dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah menyepakati program-program integrasi sumber-sumber daya energi dalam ASEAN Plan of Action of Energy Cooperation 2016 (APAEC 2016), dimana di antaranya percepatan implementasi program Trans-ASEAN Gas Pipeline (TAGP)[3]. TAGP merupakan suatu program bersama untuk menyambungkan infrastruktur pipa gas alam dari sumbernya ke berbagai negara ASEAN melintasi batas-batas teritorialnya. Mengingat lokasinya yang strategis di Asia Tenggara, Natuna yang dibanggakan mau tidak mau adalah sumber potensial untuk ke depannya dipergunakan bersama.

Dalam Asean Council of Petroleum (ASCOPE)-TAGP Masterplan 2000, program TAGP akan mencakup konstruksi 4,500 km jalur pipa bawah laut senilai 7 miliar dolar AS. Delapan jalur pipa gas antar negara saat ini sudah mulai beroperasi secara bertahap sejak 1991. Dua diantaranya berasal dari Natuna Barat (Natuna Barat ke Singapura [1991] dan Natuna Barat ke Duyong, Malaysia [2001])3. Salah satu strategi besar TAGP saat ini adalah untuk mendukung Pertamina dan perusahaan/konsorsium lain yang memenangkan Production Sharing Contract (PSC) untuk melakukan studi kelayakan untuk pengembangan ladang gas Natuna Timur[4].

Melihat urgensi saat ini, dimana ‘revolusi industri’ telah bermigrasi dari Eropa ke Asia Pasifik, sedikit disayangkan bahwa inisiatif unit energi regional di ASEAN tidak terencanakan lebih awal. Perlu diingat bahwa persaingan bisnis dan industri antar negara atau antar region juga berimbas dalam persaingan mendapatkan sumber energi yang paling efisien yaitu sumber daya fosil (yang di dalamnya termasuk gas bumi). MEA akan menghadapi tantangan berat dalam persaingan memperoleh sumber daya fosil terutama dengan Tiongkok, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang. Gas bumi yang dicairkan (Liquefied Natural Gas [LNG]) dari Natuna sendiri memang sebagian sudah diperuntukkan untuk memasok kebutuhan energi bagi Taiwan, Korea Selatan dan Jepang[5]. Tiongkok pun yang selama ini ‘menahan diri’ mulai mengindikasikan ketertarikannya pada Natuna; terlihat dari mobilisasi cost guard-nya ke wilayah perairan Natuna yang di-klaim-nya sebagai zona penangkapan ikan tradisional Tiongkok[6].

Melihat kuatnya pesaing-pesaing dalam kompetisi mencari sumber daya alam seperti disebutkan di atas, keberadaan MEA jelas signifikan untuk sama-sama menjaga keamanan energi regional (misalnya, sumber daya, kelestarian pasokan, dll) di Asia Tenggara. Namun demikian dalam skala yang lebih kecil, Indonesia perlu lebih jeli mengatasi kompetisi internal di antara negara-negara anggota MEA. Dalam pratinjaunya untuk tahun 2015 lalu, ADB menyatakan bahwa perlambatan ekonomi akan dirasakan seluruh negara ASEAN (sekitar 7-10%) tetapi perlambatan ini tidak membawa dampak negatif yang cukup besar bagi dunia industri pada umumnya[7] (terkecuali di sektor minyak dan gas). Itu artinya, untuk memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri, Indonesia harus menjaga suplai energi-nya sendiri (terutama yang berasal dari perut bumi Indonesia) karena perlu disadari semua negara ASEAN lain juga memiliki strategi dan kondisi yang kurang lebih sama.

Harus diakui, langkah yang diambil Indonesia dalam rangka mengamankan pasokan energinya sendiri masih terlambat dibandingkan negara-negara ASEAN lain yang berdekatan. Malaysia misalnya, telah membangun kilang-kilang penampungan besar untuk memenuhi ambisi menjadi penampung minyak dan gas terbesar di regional Asia Tenggara[8]. Singapura juga telah memulai mega proyek Singapore Oil Store-nya di bawah formasi batuan dasar laut[9]. Indonesia, di sisi lain, baru saja selesai dengan pengambilan keputusan untuk lokasi pembangunan kilang-kilang baru (onshore atau offshore), contohnya untuk kasus Blok Masela di Maluku[10].

Kerjasama/konsesi ekonomi dalam MEA antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN lain memang sedikit banyak menguntungkan tetapi secara bersamaan mengikat Indonesia untuk berbagi sumber daya energi fosilnya. Jika Indonesia bisa mengambil keputusan out of the box, maka sudah seharusnya Indonesia bisa mengajukan agar rencana-rencana ketahanan energi di kawasan regional ke depannya di arahkan pada investasi atau proyek-proyek  energi terbarukan (renewable). Indonesia kemungkinan akan menjadi lebih aman jika mampu memproduksi dan menampung sumberdaya fosilnya (termasuk gas bumi dari Natuna) untuk keperluan industri domestik Indonesia, mengingat belum lengkapnya infrastruktur dalam negeri untuk pengadaan energi terbarukan. Hal ini penting karena sudah sewajarnya sebuah institusi/organisasi (termasuk negara) memenuhi kebutuhan dirinya (rakyatnya) terlebih dahulu sebelum mencukupi kebutuhan lembaga lain (negara lain, sekalipun negara-negara tetangga/serumpun).

By : Arief Nuryadi

Sumber :

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s