Lebar, Dalam dan Cepat: Apakah Indonesia Siap Berkembang di Era MEA?

Saat ini, globalisasi adalah fenomena global yang tidak dapat dihindarkan. Globalisasi memiliki dampak besar yang terjadi di tingkat negara dan pemerintah dan juga dampak mikro yang terjadi di tingkat individu. Apa saja yang harus diperhatikan oleh pemerintah sebuah negara di era globalisasi serta apa yang harus disiapkan oleh seorang individu agar mampu bertahan di era ini?

UC Atlas of Global Inequality mendefinisikan globalisasi sebagai:

… a widening, deepening and speeding up of interconnectedness in all aspects of contemporary social life from the cultural to the criminal, the financial to the spiritual.”

Terjemahannya:

“… pelebaran, pendalaman dan percepatan keterhubungan segala aspek kehidupan kontemporer sosial, mulai dari kebudayaan hingga kriminalitas, dari keuangan hingga hal spiritual.”

lebar-dalam-dan-cepat-indonesia-dan-mea
Ilustrasi By : Rajo D. A.

Sebagian pelebaran, pendalaman dan percepatan tersebut ada yang direncanakan dan sebagiannya lagi ada yang tidak direncanakan. Dengan kata lain, globalisasi adalah kenyataan tak terelakkan yang terjadi akibat dari perkembangan ekonomi, kebudayaan, dan teknologi.

Bila suatu negara memiliki perkembangan yang sempit, dangkal dan lamban, maka ia tidak akan bisa bertahan apalagi berkompetisi di era globalisasi saat ini. Negara tersebut akan sulit memanfaatkan kesempatan-kesempatan ekonomi yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Negara itu akan dinilai tertinggal secara kehidupan kontemporer dan dipandang sebelah mata oleh negara lain. Ia juga akan sulit memanfaatkan aplikasi teknologi terbaru yang bisa memudahkan kehidupan rakyatnya.

Sebaliknya, bila suatu negara mampu berkembang secara lebar, dalam dan cepat, maka ia bisa memiliki daya kompetisi yang tinggi di era globalisasi. Negara tersebut mampu menindaki kesempatan ekonomi baru yang muncul untuk membuat rakyatnya lebih sejahtera. Negara itu akan menjadi satu tingkatan dengan negara-negara maju dan berkembang lainnya. Ia juga akan lebih terbuka terhadap aplikasi teknologi yang bermanfaat untuk kehidupan rakyatnya.

Keunggulan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di era globalisasi

Oleh karena itu, penting sekali bagi suatu negara untuk berkembang secara lebar, dalam dan cepat. Untuk melakukan hal itu, maka langkah strategi yang tepat untuk diterapkan adalah bekerjasama dengan negara-negara lain yang juga memiliki keinginan untuk berkembang dengan cara yang sama.

Sebagai anggota negara-negara Association of South East Asian Nations (ASEAN), Indonesia tengah menyiapkan diri menyambut globalisasi. Strategi yang dipilih Indonesia adalah dengan berpartisipasi dalam tiga pilar besar program negara-negara ASEAN:

  • ASEAN Economic Community (AEC)
  • ASEAN Political-Security Community (APSC)
  • ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC)

Tiga pilar besar ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing negara-negara ASEAN dalam aspek ekonomi, kebudayaan, dan keamanan politik di panggung global. Diantara ketiga pilar besar ini, pilar yang mendapatkan perhatian paling besar dari masyarakat adalah ASEAN Economic Community (AEC) atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pilar ini mendapat perhatian paling tinggi karena memiliki dampak yang paling langsung terhadap kehidupan sehari-hari rakyat di negara-negara ASEAN.

Keunggulan yang ditawarkan program MEA bagi negara-negara ASEAN adalah sebagai berikut:

Pertama: Bila ASEAN menjadi satu kekuatan ekonomi, ia akan menjadi kekuatan ekonomi ke-7 paling besar di dunia dengan Pendapatan Domestik Bruto sebesar US$2.4 Trilyun di tahun 2013. Bila tren terus berlanjut, ASEAN bisa menjadi kekuatan ekonomi ke-4 terbesar di tahun 2050.

Kedua: Dengan jumlah penduduk lebih dari 600 juta orang, ASEAN memiliki pasar potensial lebih besar dari Uni Eropa atau Amerika Utara. Setelah Republik Rakyat Tionghoa dan India, ASEAN memiliki kekuatan tenaga kerja ke-3 terbesar yang masih muda di dunia.

(Sumber: Asian Development Bank, “ASEAN Economic Community: 12 Things to Know”)

Keunggulan-keunggulan diatas tentunya sangat menguntungkan Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah, sesuai yang tertera di artikel Asian Development Bank diatas, MEA dirancang untuk memberikan kebebasan pergerakan barang-barang, jasa, modal, dan tenaga kerja di antara negara-negara di kawasannya. Yang patut menjadi pertanyaan adalah apakah MEA lebih mementingkan ASEAN sebagai joint production (kekuatan produksi bersama) atau joint market (pasar bersama)?

Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah Indonesia saat ini. Pemerintah Indonesia harus menghindari kebijakan program MEA yang hanya sekedar menjadikan rakyat Indonesia sebagai pasar untuk “menumpahkan” produk-produk impor, baik dari negara-negara ASEAN lainnya maupun dari negara-negara lain. Pemerintah Indonesia harus memastikan bahwa kebijakan-kebijakan yang tertuang dalam program MEA memberikan kesejahteraan yang lebih tinggi bagi rakyat Indonesia dalam bentuk kesempatan bekerja dan berwirausaha yang lebih tinggi.

By : Endy Daniyanto

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s