Kekuatan Ahok: Lembaga Survei

gubernur-dki-jakarta-basuki-tjahja-purnama-ahok-menjawab-pertanyaan-_160225175746-400
Ilustrasi, Ahok (Gubernur DKI Jakarta) memberikan salam kepada media

Begitu fenomenal nama Basuki Tjahaja Purnama atau “Ahok” di berbagai media, hampir seluruh media selalu membahas sepak terjang Ahok baik dalam memberikan pendapat, kebijakan atau bahkan bicara tentang lawan politik. Nama Ahok memang memiliki tren yang menanjak seiring dengan semakin dekatnya Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Bahkan berdasarkan beberapa hasil survei tahun 2016, Ahok memiliki tingkat keterpilihan paling tinggi yaitu pada angka 42,3% (Kedai Kopi), 43% (Centre for Strategic International Studies), dan 51.8% (Charta Politica). Angka ini memang paling tinggi dibandingkan dengan tingkat keterpilihan calon yang lain, akan tetapi tingkat keterpilihan Ahok ini masih memiliki beberapa kelemahan, kelemahan ini belum dapat menjadi gambaran hasil survei yang akan berlangsung dan bahkan dapat menjadi boomerang bagi Ahok dalam Pilgub DKI 2017.

Kelemahan pertama adalah metodologi survei, hal ini akan menjadi pertanyaan bagi “masyarakat intelektual” di Jakarta, karena masyarakat Jakarta rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, artinya angka ini tidak akan ditelan bulat-bulat oleh masyarakat intelektual di Jakarta, mereka akan bertanya tentang bagaimana metodologi dalam proses survei dilakukan. Seperti yang kita ketahui, setiap hasil yang dipaparkan oleh media, sangat jarang yang mengungkapkan tentang bagaimana cara Lembaga survei melakukan pengambilan data. Pengambilan data menjadi hal paling fundamental yang akan menggambarkan hasil tingkat keterpilihan setiap Cagub. Selain pengambilan data, berikutnya adalah karakteristik responden, baik itu usia, latar belakang pendidikan, letak geografis, maupun agama, dapat memberikan pengaruh terhadap elektabilitas setiap Cagub.

Kelemahan kedua adalah siapa lawan Ahok yang sebenarnya dalam pilgub DKI 2017? Beberapa lembaga survei sudah memberikan hasil gambaran awal angka keterpilihan setiap cagub, yang kemudian diungguli oleh Ahok, setiap hasil tersebut seolah-olah merupakan representasi dari hasil Akhir Pilgub, padahal lawan ahok sampai saat ini belum jelas. Contohnya adalah Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, Ridwan Kamil secara jelas sudah menyatakan tidak akan maju pada Pilgub DKI 2017,  begitu juga dengan Tri Rismaharini yang menyatakan sikap yang sama dekan RK. Akan tetapi, lembaga survei masih memasukkan nama kedua calon tersebut sehingga distribusi angka keterpilihan menjadi tidak valid. Bayangkan apa yang terjadi jika tidak ada kedua Cagub tersebut, kemanakah distibusi angka keterpilihan tersebut akan masuk? atau bagaimana jika Ridwan Kamil yang pada awalnya menyatakan sikap mundur malah kemudian maju berpasangan dengan Tri Rismaharini, Keduanya bisa saja berubah karena dorongan masyarakat Bandung dan Surabaya yang mampu merelakan wali kota-nya untuk maju ke ajang Pilgub DKI, atau bahkan dorongan dari partai tertentu untuk mengusung keduanya maju, atau Bagaimana jika RK berpasangan dengan yusril ihza mahendra, Apakah elektabilitas setiap lembaga survey akan berubah?  Apakah Ahok masih unggul?

Kelemahan ketiga adalah Ahok merupakan petahana atau incumbent, meskipun Ahok memiliki elektabilitas yang tinggi dibandingkan calon lainnya, angka keterpilihan Ahok sebagai petahana belum bisa dikatakan aman, beberapa hasil survey menunjukkan elektabilitas Ahok kurang dari 50%, padahal di daerah lain, seorang incumbent yang memiliki elektabilitas dibawah 50%, harus berpikir ulang untuk maju. Sebagai pembanding petahana, elektabilitas Tri Risma setahun sebelum pilkada mencapai 85%, dan meningkat menjadi 87% dua bulan sebelum pemilihan.

Kelemahan Keempat adalah wilayah administrasi pengambilan data, hal ini menjadi penting karena tidak semua wilayah di Jakarta merupakan pendukung Ahok. Jika pengambilan data dilakukan hanya di wilayah tertentu misal daerah jakarta selatan, mayoritas penduduknya adalah etnis tiongkok, tentu saja angka keterpilihan Cagub akan lebih besar peluangnya untuk Ahok.

KEUATAN AHOK KEDUA : CAGUB INDEPENDEN YANG DIUSUNG OLEH MEDIA

Ahok merupakan Cagub Independen, artinya Ahok “tidak diusung” oleh partai manapun, meskipun saat ini sudah ada dua partai yang menyatakan dukungan kepada Ahok, yaitu Partai Nasdem dan Partai Hanura. Bahkan Nasdem memberikan dukungan penuh dengan cara bekerjasama dengan teman Ahok dalam pengumpulan KTP.

Tidak dapat dipungkiri lagi popularitas Ahok memang semakin menanjak di awal tahun 2016, akan tetapi popularitas itu berbeda dengan elektabilitas, sebagai contoh Ahmad Dhani yang merupakan konstituen PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) memiliki tingkat popularitas yang tinggi, akan tetapi Ahmad Dhani belum tentu memiliki elektabilitas yang tinggi. Hal ini serupa dengan Ahok, Ahok memiliki popularitas yang tinggi di media, tetapi jika dibandingkan dengan popularitas Jokowi pada Pilgub 2012, Ahok masih dibawah popularitas Jokowi pada saat pemilihan gubernur tahun 2012. Selain dukungan media, Jokowi dengan ciri khas “Blusukan”, “Santun”, dan “menyatu dengan masyarakat” mendapatkan hati rakyat sehingga elektabilitas Jokowi begitu kuat, bahkan dapat memenangkan Pilpres dengan diusung oleh PDIP.

Popularitas, hati rakyat, dan diusung oleh partai menjadi kekuatan sempurna yang dimiliki oleh Jokowi, akan tetapi belum lengkap dimiliki oleh Ahok. Bahkan beberapa pengamat mengingatkan bahwa yang memenangkan Pilgub 2012 “bukan Ahok, tetapi Jokowi”. Hal ini dapat melemahkan elektablitias Ahok. Ahok akan mengalami kesulitan jika hanya mengandalkan dukungan media dan popularitas saja. Dua hal yang penting yang sudah dimiliki oleh Jokowi belum dapat dipenuhi oleh Ahok, Ahok belum bisa mendapatkan hati rakyat seluruh warga Jakarta, salah satu penyebabnya adalah buruknya komunikasi politik Ahok. Ahok seringkali menggunakan kata kasar dalam menyampaikan pendapatnya kepada media dan hal ini tidak secara langsung membuat rakyat kurang simpatik, dan Ahok juga melakukan penggusuran di beberapa wilayah jakarta, seperti Kalijodo, Kolong Tol Pluit dan berikutnya yang akan digusur adalah Berlan, kemudian Jatinegara.

Kekuatan Politik
Kekuatan politik saat ini dapat memberikan pengaruh terhadap peluang kemenangan Cagub DKI Jakarta 2017

Hal kedua, jalur independen akan menyulitkan Ahok mendapatkan dukungan partai-partai besar. Data kekuatan partai dapat diamati dari hasil pilpres 2014, dimana PDIP menempati Partai yang paling kuat. Saat ini, Ahok baru mendapatkan dukungan dari dua partai, sedangkan partai lain masih belum menyatakan sikap. Setidaknya, Ahok membutuhkan dukungan lebih dari dua partai untuk memenangkan Pilgub DKI 2017.

By : Rajo D. A.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s