Menjawab Pesan Si Bayi

Leni
Ilustrasi: Bayi menyampaikan pesan kepada Ibunya (sumber: http://www.popsugar.com)

Apa yang akan kita lakukan jika sedang asik melakukan pekerjaan rumah tangga tiba-tiba bayi kita terbangun dari tidurnya dan menangis? Apakah kita akan buru-buru menghampirinya? Atau karena nanggung, kita selesaikan pekerjaan terlebih dahulu? Apakah buru-buru “meladeni” bayi yang menangis berarti mengajarkan bayi menjadi manja? Apa pentingnya bersegera menanggapi bayi yang menangis?

Bayi yang berusia di bawah 1 tahun identik dengan menangis. Oleh karena menangis adalah sesuatu yang lumrah terjadi pada bayi, seringkali kita sebagai orang tua cenderung mengabaikan tangisan bayi apalagi jika dibentrokkan dengan pekerjaan lain yang dianggap lebih urgent. Bayi menangis tak sekedar menangis. Memang, pada saat baru lahir tangisan penting untuk membantu perkembangan organ-organ tubuh tertentu pada bayi, seiring perkembangannya tangisan menjadi cara yang digunakan oleh bayi untuk menyampaikan pesan kepada orang-orang di sekitarnya,  apakah ada perubahan yang ia alami pada tubuhnya, apakah ia lapar atau ada sesuatu yang ia rasakan tidak nyaman. Bagi bayi, menangis merupakan kekuatan yang ia miliki untuk menghadapi dunia yang masih asing baginya.

Bagaimana cara orang tua atau pengasuh menanggapi tangisan bayi akan mempengaruhi pondasi, apakah positif atau menjadi tidak stabil perkembangan bayi di masa depan. Ada beberapa alasan mengapa cara menanggapi tangisan bayi ini penting, salah satunya akan kita urai pada tulisan kali ini. Yuk kita simak.

Menjawab Pesan Si Bayi = Menumbuhkan Kepercayaan

Seorang psikolog kelahiran Jerman, Erik Erikson (1950) mengungkapkan ada 8 tahap perkembangan psikososial pada individu. Setiap tahap akan dapat dilalui seseorang dengan berhasil jika ia menyelesaikan tugas-tugas pada tahap sebelumnya. Tahap pertama perkembangan psikososial menurut Erikson adalah trust vs mistrust (kepercayaan atau ketidakpercayaan) yang terjadi pada tahun pertama kehidupan. Tugas pada tahap ini dikatakan tercapai atau terselesaikan jika bayi mengembangkan rasa percaya pada orang lain, pada dirinya sendiri dan pada lingkungan sekitarnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan pengasuh untuk membantu mengembangkan kepercayaan bayi adalah melalui cara menanggapi tangisan bayi.

Saya coba analogikan kondisi bayi seperti seseorang yang mengalami anaesthesia awareness, kondisi dimana seseorang tersadar selama pembiusan. Salah satu kondisi anaesthesia awareness adalah kita tersadar, tidak bisa bergerak atau berteriak, tapi bisa merasakan sakit. Sebuah kondisi stres yang luar biasa. Bayangkan kita merasakan ketidaknyamanan di tubuh kita sedang kita tidak dapat bergerak dan berteriak. Kita melihat ada orang-orang di sekitar kita, tapi mereka sibuk dengan pekerjaannya tanpa sedikitpun menoleh, apa yang kita rasakan? Setuju bahwa kita merasa tidak aman? Kita seperti semakin tidak berdaya dan orang-orang di sekitar juga tidak bisa diandalkan.  Bayangkan juga sebaliknya, saat kita merasakan ketidaknyaman lalu orang-orang disekitar kita segera dengan sigap mendatangi dan tanpa kita jelaskan mereka mengerti apa kebutuhan kita, apa yang kita rasakan? Setuju bahwa kita merasa sangat aman di lingkungan tersebut? Menjadi lebih percaya pada diri sendiri, orang-orang sekitar dan lingkungan kita? Kira-kira begitulah proses terbentuknya kepercayaan pada diri bayi melalui tanggapan kita terhadap tangisannya.

Kekonsistenan pengasuh dalam sigap dan tepat memenuhi kebutuhan yang disampaikan bayi melalui tangisan akan menumbuhkan kepercayaan pada bayi. Dan yang terpenting kepercayaan ini akan menjadi modal bagi bayi untuk melalui tahap perkembangan berikutnya yaitu usia 1-3 tahun. Bayi yang memiliki rasa percaya akan lebih yakin dalam melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, jika tidak ada kekonsistenan dalam sigap dan tepat memenuhi kebutuhan yang disampaikan bayi melalui tangisan, maka bayi akan menjadi tidak percaya atau penuh curiga terhadap orang-orang di sekitarnya. Ketidakpercayaan ini akan mempengaruhi tahap perkembangan bayi di usia berikutnya dimana bayi menjadi malu atau ragu-ragu dalam melakukan eksplorasi terhadap lingkungannya.

Apakah itu berarti kita memanjakan bayi? Salah satu alasan kenapa Ibu-Ibu kadang menunda menanggapi tangisan bayi adalah takut membuat bayi menjadi manja. Ibu-Ibu tidak perlu khawatir karena sampai bayi mencapai titik dimana bayi memiliki pemahaman dasar mengenai sebab akibat biasanya sekitar usia 8 sampai 10 bulan, bayi belum mampu mengontrol kaitan antara tangisannya dengan cara kita menanggapi. Misalnya ketika bayi menangis lalu kita terburu-buru menghampiri, bayi tidak akan berpikir bahwa “lain kali saya akan menangis lagi agar dihampiri lagi”. Bayi hanya mengerti bahwa jika ia menangis maka seseorang akan mengurus mereka, jika tangisan mereka diabaikan itu berarti tidak ada yang peduli terhadap mereka.

Oleh karena itu, kesigapan menanggapi tangisan bayi dan memiliki keterampilan dalam memahami makna dibalik tangisan bayi menjadi penting dimiliki oleh orang tua atau pengasuh sehingga kita bisa menjawab dengan tepat pesan yang disampaikan si bayi melalui tangisan-tangisannya.  InsyaAllah bayi kita akan tumbuh menjadi anak yang lebih percaya pada diri dan lingkungannya.

By : Leni Syariyenti

Sumber:
Faris, Melodi dan McCarroll, Elizabeth. 2010. Craying Babies. Texas Child Care. Diambil dari http://www.childcarequarterly.com/pdf/fall10_babies.pdf (29 Februari 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s